Komunitas Inlanders Van Tjondet
Berita Condet – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Jakarta, persepsi masyarakat terhadap kawasan Betawi Condet masih menyisakan berbagai pandangan yang belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Tidak sedikit yang menganggap Condet telah kehilangan identitas sebagai salah satu pusat kebudayaan Betawi. Padahal, berbagai tradisi, nilai budaya, sejarah, hingga aktivitas masyarakat Betawi masih terus hidup dan berkembang di kawasan tersebut.
Sebagai salah satu kawasan yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Betawi, Condet menyimpan jejak panjang perjalanan budaya Jakarta. Selain dikenal sebagai sentra buah-buahan pada masa lalu, kawasan ini juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai tradisi Betawi yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari seni, kuliner, bahasa, hingga adat istiadat.
Meski demikian, perubahan tata kota, pertumbuhan permukiman, serta minimnya literasi mengenai sejarah Condet membuat sebagian masyarakat hanya mengenal kawasan tersebut sebagai wilayah padat penduduk. Persepsi inilah yang dinilai perlu diluruskan melalui edukasi dan pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Inisiator Komunitas Inlanders Van Tjondet, Iwan Andjung, menilai bahwa perubahan wajah fisik kawasan tidak serta-merta menghapus identitas budaya yang telah mengakar selama ratusan tahun.
“Masih banyak yang berpikir Betawi Condet sudah hilang. Padahal yang berubah adalah lanskap kotanya, bukan semangat budayanya. Tradisi Betawi masih dijalankan oleh masyarakat, komunitas, dan para pegiat budaya yang terus berupaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda,” ujar Iwan Andjung.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah membangun kembali narasi positif mengenai Betawi Condet di ruang publik. Ia menilai media, komunitas, akademisi, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam memperkenalkan kembali sejarah serta kekayaan budaya Condet kepada masyarakat luas.
“Condet tidak boleh hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah Jakarta. Kawasan ini harus dipandang sebagai ruang budaya yang terus hidup. Ketika masyarakat memahami nilai sejarah dan budayanya, akan tumbuh rasa memiliki yang mendorong upaya pelestarian secara bersama-sama,” katanya.
Iwan juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian budaya melalui pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, media digital, seni pertunjukan, festival budaya, hingga konten kreatif dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kembali identitas Betawi Condet.
“Anak-anak muda adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Mereka bisa mengemas cerita tentang Condet dengan cara yang menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai budayanya. Jika itu dilakukan secara konsisten, persepsi masyarakat akan berubah. Condet akan kembali dikenal bukan hanya sebagai sebuah wilayah di Jakarta Timur, tetapi sebagai salah satu pusat peradaban budaya Betawi yang masih hidup,” ungkapnya.
Melalui berbagai kegiatan yang diinisiasi Komunitas Inlanders Van Tjondet, diharapkan semakin banyak masyarakat mengenal kembali sejarah, budaya, serta potensi Condet sebagai bagian penting dari identitas Jakarta. Pelestarian budaya, menurut Iwan, bukan semata menjaga masa lalu, melainkan memastikan warisan tersebut tetap relevan dan memberi manfaat bagi generasi masa depan.
