Ngopi Di Condet
Berita Condet – Minimnya literasi generasi muda, khususnya Generasi Z di kawasan Condet, terhadap sejarah, kesenian tradisional, dan keberagaman budaya Betawi menjadi perhatian berbagai tokoh masyarakat. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya populer global, tidak sedikit anak muda yang mengenal budaya Betawi hanya sebatas ondel-ondel atau tanjidor, tanpa memahami kekayaan tradisi yang pernah tumbuh dan berkembang di Condet.
Padahal, Condet memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Betawi. Kawasan ini dikenal bukan hanya sebagai sentra buah-buahan seperti salak dan duku, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya berbagai kesenian, tradisi, kuliner, permainan rakyat, hingga nilai-nilai gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Betawi. Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa perubahan sosial dan urbanisasi telah mengubah wajah Condet sehingga pelestarian budaya memerlukan upaya yang lebih kuat, terutama melalui pendidikan dan literasi budaya.
Perkembangan teknologi memang membuka akses informasi yang luas. Namun, di sisi lain, kedekatan generasi muda dengan budaya lokal justru semakin berkurang. Berbagai penelitian menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara pengenalan simbol budaya Betawi dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai, sejarah, dan maknanya di kalangan Generasi Z.
Tokoh Betawi Condet, Bang Nur Ali, menilai rendahnya literasi budaya menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi bersama. “Banyak anak muda di Condet yang lahir dan besar di sini, tetapi belum mengenal sejarah kampungnya sendiri. Mereka mungkin tahu ondel-ondel, tetapi belum memahami bagaimana Condet pernah menjadi pusat pelestarian budaya Betawi dengan berbagai kesenian, tradisi, hingga kehidupan masyarakatnya yang sangat beragam. Kalau literasi budaya tidak diperkuat, maka kita akan kehilangan identitas secara perlahan.”
Menurut Bang Nur Ali, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui festival tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda melalui pendidikan, komunitas, media digital, dan kegiatan kreatif yang dekat dengan keseharian mereka.
Senada dengan itu, Ahmad Syarifudin Fajar, Anggota Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Timur, mengatakan literasi budaya memiliki hubungan erat dengan penguatan karakter kebangsaan dan kesadaran sebagai warga negara. “Generasi muda yang memahami sejarah dan budayanya akan memiliki rasa memiliki terhadap lingkungannya. Literasi budaya bukan sekadar mengenalkan kesenian tradisional, tetapi juga menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, serta penghormatan terhadap keberagaman yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi di Condet. Nilai-nilai inilah yang penting terus diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Sementara itu, Pendiri Rumah Kreatif Condet, Bang Kamil, menilai pendekatan pelestarian budaya harus mengikuti karakter Generasi Z yang akrab dengan media digital. “Kita tidak bisa lagi mengenalkan budaya hanya lewat ceramah atau buku. Generasi Z harus diajak membuat konten, film pendek, podcast, pertunjukan kreatif, hingga dokumentasi digital mengenai sejarah dan budaya Condet. Kalau budaya dikemas secara menarik, mereka akan merasa memiliki dan bangga memperkenalkannya kepada dunia.”
Bang Kamil menambahkan bahwa Rumah Kreatif Condet terus mendorong kolaborasi antara komunitas, sekolah, pegiat seni, dan masyarakat untuk menghadirkan ruang belajar budaya yang lebih terbuka bagi anak-anak muda.
Upaya memperkuat literasi budaya dinilai semakin penting mengingat berbagai inisiatif pelestarian budaya Betawi di Condet mulai bermunculan dalam beberapa tahun terakhir dengan melibatkan komunitas, perguruan tinggi, hingga generasi muda. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap budaya lokal masih dapat dibangun apabila dikemas melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, komunitas, dan generasi muda, diharapkan Condet tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga mampu menjadi pusat pembelajaran budaya Betawi yang hidup, adaptif, dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.
